News

Ini pesan penting khususnya untuk para pengkhotbah, dan jemaat yang sering membawakan lagu pujian dalam bentuk solois atau koor di gereja lokal.

Sebab dengan mulai diberlakukannya Undang-Undang No.28 tahun 2014 tentang Hak Cipta, kita bisa saja suatu saat menghadapi tuntutan hukum mulai dari somasi, diadukan ke pihak berwajib(kepolisian) sampai berakhir di meja pengadilan.Terutama bila secara terang-terangan kita sengaja "mencuri" karya cipta orang lain.

Demikian salah satu benang merah yang terungkap dalam Seminar Departemen Komunikasi Konference DKI Jakarta & sekitarnya bertemakan "Perhatikan UU Hak Cipta Bilamana Menginjil di Media" dengan nara sumber Anggiat Marulitua, SH, MH dari Jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) MT.Haryono berlangsung secara virtual (zoom) di Jakarta, Jumat siang (2/10/2020).Dalam seminar setengah hari ini moderator adalah Pdt.Samuel Simorangkir, Direktur Departemen Komunikasi Konference DKI Jakarta & sekitarnya.

" Bila kita mengambil karya orang lain tanpa izin,bahkan tak menyebut sumbernya dari mana, ini sangat berbahaya, bisa mendapat tuntutan hukum.Kenapa mengambil karya cipta orang lain disebut 'perbuatan yang dilarang' atau 'pencurian' karena karya tersebut telah dilindungi oleh undang-undang yaitu UU No.28 tahun 2014 tentang Hak Cipta," kata Anggiat Marulitua Sinurat, SH,MH yang juga adalah seorang pengacara, seraya mengutip Firman Tuhan dalam Keluaran 20 :15 "Jangan Mencuri".

"Mengambil barang atau karya orang lain seperti tulisan, foto, video, gambar, dan potret tanpa izin, itu adalah 'mencuri'.Sebutkan sumbernya dengan benar, dan gunakan juga dengan benar.Misalnya untuk bahan tulisan keperluan khotbah berikut gambar atau foto di dalam khotbah," pesan Sinurat, lulusan S1 dan S2 Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) dan saat ini tengah mengambil program Doktoral Ilmu Hukum (S3) dari Universitas Jayabaya Jakarta.

"Sekali lagi saya berpesan dengan mulai diberlakukannya UU Hak Cipta ini kita harus lebih berhati-hati lagi.Jangan anggap remeh karena presentasi khotbah atau lagu rohani ini disampaikan hanya di lingkungan kita saja.Tak menutup kemungkinan suatu saat akan timbul masalah hukum," pesannya lagi.

Pada kesempatan seminar Departemen Komunikasi yang cukup "seru" dan "hangat" karena diwarnai tanya jawab cukup panjang dari peserta zoom ini, Pdt.Samuel Simorangkir akhirnya membacakan kesimpulan sebagai berikut ;

1) Di tengah kondisi pandemi atau Era New Normal ini, pelayanan gereja lebih banyak mempergunakan media komunikasi.Oleh karena itu kita harus lebih berhati-hati lagi ketika mau mengambil atau mengutip karya cipta orang lain.Mencuri adalah perbuatan dosa (Keluaran 20: 15) yang dulu kita anggap biasa.

2) Biasakan menyebut nama (sumber) barang atau bahan yang kita "kutip" baik itu tulisan, foto, dan video (termasuk dari google-red) untuk keperluan presentasi, khotbah, dan lagu pujian (lagu rohani). Khusus untuk lagu-lagu rohani Kristen yang sedang populer, harus berhati-hati, jangan sampai tak izin atau menyebut karya penciptanya, apalagi sampai dipublish di media sosial dan itu menjadi viral.

3) Hati-hati, khususnya untuk para pengkhotbah ketika sedang menyampaikan presentasi dan khotbah, semisal dalam seminar kerohanian, ibadah gereja atau Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR ) lalu disiarkan di media sosial (Youtube, Facebook, atau Instagram) secara langsung (live streaming). Beritahu dulu pembicara atau pengkhotbahnya bahwa ini siaran langsung (live streaming), sehingga pembicara lebih berhati-hati, jangan sampai "menyinggung" komunitas keagamaan atau pribadi orang lain.Dalam live streaming ini Departemen Komunikasi bisa membantu gereja.

4) Jangan kuatir soal tuntutan hukum, terpenting yang kita kerjakan itu sifatnya tidak untuk tujuan komersial (non komersial) atau untuk menghasilkan dana.Tetaplah berkarya, seandainya ada orang yang mau menuntut kita secara hukum, kita sudah mencantumkan sumber dari mana kita mengutipnya.

5)Dan, paling berbahaya ketika khotbah, presentasi, atau lagu rohani yang kita bawakan untuk keperluan "lokal", lalu ada orang lain yang "menvideokan" terus di-upload di media sosial dan menjadi "viral".Di situlah yang berbahaya, bila suatu saat ada orang yang komplain dan mau menuntut secara hukum. Biasakan kalau kita mau khotbah atau membawakan lagu rohani Kristen, tolong diingatkan orang-orang yang mau "menvideokan" atau di-upload di media sosial, jangan sampai membahayakan presentasi atau lagu pujian yang kita bawakan.

"Lebih baik dan aman kalau kita mengutip atau mempublish karya cipta dari organisasi gereja sendiri atau dari keluarga terdekat.Misalnya,mau ambil contoh foto doa orang bertelut, ya foto saja keluarga sendiri.Dan, biasakan untuk bahan foto-foto khotbah dipotret dari karya sendiri.Termasuk kalau menyanyikan lagu pujian yang juga aman dan tak perlu izin berasal dari Buku Lagu Sion edisi lengkap yang copyright-nya adalah Indonesia Publishing House," pungkas Anggiat Sinurat, SH, MH ketika menutup presentasinya.(*/PLS)

(*/Dilaporkan oleh Lasman Simanjuntak, Pemimpin Departemen Komunikasi Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh/GMAHK Jatinegara).

Who's Online

We have 178 guests and no members online